Tampilkan postingan dengan label Profil Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Sukses. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 November 2009


Kembali pada Pengertian Baik

Artikel ini dimuat di Republika bulan April 2009 yang lalu dalam bentuk wawancara di tengah-tengah kesibukan pengambilan gambar Mario Teguh Golden Ways di Metro TV.

Bentuk program motivasi bertajuk The Golden Ways ini sebenarnya seperti apa?
Kalau diperhatikan, semua program saya itu sharing. Itu kisah perjalanan. Itu semua pengalaman spiritual saya. Kalau saya katakan, ''Gunakan sebaik-baiknya sikap dalam seburuk-buruknya keadaan.'' Itu pelajaran saya sendiri. Kalau saya masuk dalam suatu keadaan buruk lalu saya bersikap buruk, tambah jelek.

Semua itu tidak mungkin saya pelajari kalau saya cuman jadi satu orang. Saya ini dua orang minimal. Yang satu mengalami, yang satu mengamati. Yang ketiga, merencanakan dan mengajarkan.

Bagaimana Anda bisa membagi diri untuk peran seperti itu?
Dari muda saya sudah melatih diri. Jika saya mengalami sesuatu, ada Mario yang satu lagi yang tertawa melihat kesedihan saya dan ada satu lagi yang mengatakan kalau ini diajarkan, kamu memulainya dari sudut ini. Saya harus jadi bukti nasihat saya.

Dalam perjalanannya, apakah Anda menemukan kesulitan?
Dalam masa awal saya tampil di publik itu, saya diprotes terus oleh orang-orang yang mengklaim ingin memiliki saya. Kalau sudah Islam, ya tampillah. Tetapi, dengan cara saya yang berbeda, saya harus bersabar. Dan, kesabaran yang dibutuhkan hanya bisa datang dari Tuhan.

Saya percaya yang saya lakukan ini sebaik-baiknya yang harus saya jalani. Jika pemuka agama yang menggunakan ayat Tuhan itu hidupnya lebih mudah, karena sebut saja Alquran surat Al-Furqon ayat berapa saja, tidak ada yang bantah.

Nah, dalam memotivasi, saya menggunakan bahasa Indonesia dan dibantah, dipertanyakan, atau dieyel kata orang jawa. Ayat-ayat Alquran itu seharusnya bisa disampaikan dalam bahasa apa pun. Seperti, ada batasan bahasa yang saya terpaksa harus langgar saat memberi motivasi dengan berlandaskan ajaran Islam.

Menurut saya, bahasa yang biasa digunakan tidak praktis maka saya langgar saja. Bukan saja karena saya suka melanggar, tapi itu kekhususan saya. Jika tidak dilakukan, ada cara-cara saya yang akan hilang saat memotivasi.

Pilihan kata itu penting ya?
Begini, ya. Orang tidak mungkin bertindak di luar pengertiannya. Jadi, orang yang menguasai kata, menguasai pengertian, dia menguasai tindakan. Dan, kalau dia menguasai pengertian orang banyak, berarti dia menguasai tindakan orang banyak.

Tuhan itu mengajar dengan kalam. Kalam itu juga kalimat lho. Lalu, mengapa kita tidak membuat diri kita ahli dalam penggunaan kata itu. Kalam memiliki arti kalimullah (kata-kata Tuhan), itu juga dengan kata. Jadi, ketika Tuhan ingin memberikan pesan pada seseorang, paling praktis itu lewat orang.

Bukan hanya di layar kaca atau di depan publik, secara pribadi dia sangat ramah dan familier. Malah, belum sempat ditanya, Mario Teguh sudah melontarkan sebuah pertanyaan pembuka bagi kami. ''Coba Anda tebak saya, apakah saya Cina?''
Kami sempat menyetujui anggapan itu lalu ia menjawab, ''Banyak orang yang mengatakan seperti itu.''

Awalnya, bagaimana Anda bisa menjadi motivator?
Sebenarnya, dulu pingin jadi guru. Saya sempat menjadi guru karena memang pendidikan saya IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Malang, Jawa Timur. Dan, saat duduk di bangku SMA, saya mendapat beasiswa ke Chicago.

Sebagai seorang anak pensiunan kapten yang sederhana, saya agak miskin. Saya ini sempat protes kepada Tuhan. Why me? Mengapa kok saya yang dimiskinkan atau dikurangkan.

Nah, protes itu membuat saya sensitif pada orang yang lebih dari saya. Untungnya ayah saya mendidik saya untuk menghormati yang lebih kuat atau lebih mampu atau lebih pandai.

Jadi, dalam protes itu, saat melihat orang yang lebih dari saya, saya melihat mengapa mereka bisa sampai ke sana. Bukan memprotes ketidakadilan terhadap saya atau memprotes kemudahan hidup mereka.

Dan, saya melihat cara naik itu dari orang-orang di sekitar saya yang lebih kuat. Dari hal itu, saya seperti merasa terpanggil untuk memberikan pengertian yang sama pada orang lain bahwa saya mengerti caranya. Saya ingin menyampaikannya pada orang lain. Sebuah kesenangan membuat orang mengerti cara yang sama dengan saya.

Anda memotivasi orang. Apa yang Anda ucapkan itu sangat berkorelasi dengan yang Anda lakukan?
Tidak ada orang yang mengaku beriman kalau dirinya tidak diuji dan itu bagian dari iman. Seperti, kita mulai ingin bersabar, ketemu saja orang yang ingin buat kita marah.

Bayangkan, itu baru satu orang saja berjanji, diuji. Saya ini menasihatkan ke puluhan juta orang mengenai kesabaran. Jauh lebih berat. Itu tidak saya tunjukkan kemarahan-kemarahan saya, kecilnya hati, merasa dikhianati, merasa menyayangi kok ditipu balik, kok orang mengambil keuntungan itu setiap hari.

Satu lagi, berkata itu tidak ada sesuatu terjadi yang tujuannya tidak untuk kemuliaan kita. Jadi, saya melihat diri saya yang marah itu sebagai bukti saya tidak boleh menggampangkan. Saya menemukan nasihat itu tidak mudah, saya harus menemukan cara supaya nasihatnya masuk akal kalau disampaikan ke orang lain.

Nilai keagamaan itu penting untuk memotivasi diri?
Sebetulnya tidak ada kehidupan yang tanpa agama. Aslinya, pengertian hidup itu agama.
Saya dulu protes kalau hidup kita itu untuk Tuhan. Lalu, untuk aku apa? Kebebasanku di mana? Harus begini untuk menyenangkan Tuhan, lalu untuk menyenangkan saya mana?

Itu menjadi pertanyaan saya yang panjang sebagai Mario muda sampai saya mengerti bahwa kesenangan itu justru karena kita mengabdikan diri pada kebaikan. Jadi, saya belajar memisahkan dulu istilah hidup untuk Tuhan. Itu saya tunda dulu. Karena banyak orang tidak mengerti, jadi itu saya angsur, dicicil. Nanti, kalau kamu sudah mengerti sekali, baru hidupmu untuk Tuhan.

Bagaimana mengajak orang dalam kebaikan?
Orang mudah mengerti ketika diajak bahwa hidup itu untuk kebaikan. Yang hidup untuk kebaikan, dapat kebaikan sebagai hadiah pertama. Di dalam keluarga Mario Teguh Super Club (MTSC), itu ada banyak peraturan, hukum, rules. Hadiah pertama bagi orang yang melakukan kebaikan adalah kebaikan (salah satu rules penting di MTSC).

Saya mempengaruhkan sikap itu kepada semua orang yang kenal saya bahwa kalau kita melakukan kebaikan, kita diuji, diganggu. Kebaikan yang kita lakukan itu sebagai hadiah. Jadi, orang melakukan kebaikan tidak melihat bahwa itu hadiah. Yang dilihat adalah aku dapat apa.

Banyak orang yang disebut khilaf tidak melihat apa yang di depan matanya karena tidak melihat yang dilakukannya itu adalah hadiah. Bagi dirinya, orang bisa jadi baik itu sudah hebat sekali lho.
Salah satu rules lainnya yang saya ajarakan pada adik-adik saya, atau yang lebih muda, bahwa memang kita harus lebih dulu melakukan kebaikan dan melihat itu sebagai hadiah. Saya nasihatkan ke adik-adik saya bahwa jika yang kamu pikirkan kebaikan, yang kamu rasakan kebaikan, yang kamu katakan kebaikan, yang kamu lakukan kebaikan, maka kebaikan itu yang mencari jalan.

Tidak ada orang yang tidak bisa dimotivasi?
Semua bukannya bisa berubah, tapi semua orang membutuhkan perubahan. Sesulitnya orang, sejelek-jelek sifatnya, dia akan membutuhkan perubahan, karena dia tidak mungkin hidup di kualitas baru dengan pribadi yang lama. Jadi, dia mau menolak seperti apa. Semua orang sebenarnya sedang menunggu.

Salah satu doa saya kalau ada yang berkata jelek kepada saya, ''Tuhan, jadikan saya jalan dia menemukan jawaban pertanyaan atas kehidupannya, supaya ia belajar menghormati orang yang berniat baik kepadanya.''

Tuhan masih baik pada saya. Orang yang dahulu bicara aniaya kepada saya, sekarang baik pada saya.
Rules lainnya dalam MTSC: cara terbaik menghancurkan musuh adalah menjadikannya sahabat.
Ibunya asal Bugis, ayah Jawa-Cina dengan kakek tulen berdarah Cina. ''Hampir sudah habis Cina yang mengalir pada (darah) saya,'' kata Mario Teguh yang wajahnya selalu ceria.

Dia beranggapan, bukan karena penampilan fisik yang membuatnya dikira Cina. ''Tapi, saya menggunakan bahasa yang tidak lazim digunakan,'' ujarnya.

Kepuasan Anda menjadi motivator?
Dulu saat saya unknown (tidak dikenal), saya pingin diketahui. Dalam perjalanan, saya melihat bukan itu yang dicari. Nama baik itu hadiah. Cara agar hidup kita lama adalah dengan kebaikan. Karena, kebaikan itu akan tersisa dan diwarisi bahkan bukan oleh anak-anak kita saja.

Salah satu tanda Tuhan menghadiahkan nama baik, ada walau sudah meninggal. Nama baik hanya mungkin diberikan pada orang baik. Hanya bisa disebut orang baik kalau melakukan yang baik. Saya tidak lagi berpikir tentang nama ketenaran. Jadi, saya fokus pada apa yang saya lakukan baik.

Kalau dikenal itu pemberitahuan dari Tuhan bahwa wilayah pelayanan saya lebih luas. Tidak ada yang saya pikirkan kecuali perluasan pelayanan. Dan, kata ''pelayanan'' itu banyak yang menganggap bukan Islam. Kata itu untuk tidak membatasi keluasan Islam dengan kata-kata.

Pernah mendapat pertanyaan sulit?
Saya tidak berpresumsi bahwa saya punya semua jawaban. Tapi, saya mengabdi diri pada Tuhan. Saya tampil di panggung sebagai wakil. ''Jangan buat aku memalukan-Mu, Tuhan.''

Saya berpikir visual bukan verbal. Saya membayangkan di belakang saya ada dum, ada air mengalir. Itu khasanah ilmu. Di depan saya seperti ada kaca-kaca, saya harus lewati. Di sini pengalaman latar belakang ilmu diperlukan, kadang cepat mendapat jawaban, tapi saya tahu akan sampai pada jawaban yang bagus.

Itu karena sudah lama saya melatih pikiran saya secara visual. Saya membaca lebih banyak daripada mahasiswa sekarang. Tidak hanya membaca buku, saya membaca wajah orang (kehidupan).

Sampai kapan Anda ingin menjadi motivator?
Seterusnya. Saya sudah memberi pembelajaran pada adik-adik atau yang lebih muda dalam MTSC. Saya berharap bisa terus berjalan karena kita melakukan suatu kebaikan pada orang lain.

Pesan buat generasi muda Indonesia?
Kembali kepada yang benar. Pendidikan budi pekerti sudah tidak ada di Indonesia. Kalau orang mengertinya baik, tidak mungkin bertindaknya buruk. Jadi, undangan saya kepada setiap jiwa Indonesia itu, kembali kepada pengertian yang baik.

Yang baik adalah koridor atau gang. Kalau keluar sebentar saja, kita tidak damai. Tanda yang diberikan kalau kita keluar dari kebenaran itu, bangsa ini sedang tidak damai.

Harus mau terima bahwa tanda itu menunjukkan bahwa kita sudah melakukan yang keluar dari yang baik. Tuhan berkata, ''Wahai jiwa yang tenteram....'' Itu bukan pemberitahuan, tapi perintah.

Sumber : http://marioteguh.blogspot.com/

About Mario Teguh
Biodata

Nama Asli: Sis Maryono Teguh (Mario Teguh)
Tempat/ Tanggal Lahir: Makasar, 5 Maret 1956
Agama: Islam
Istri: Linna Teguh
Anak: Audrey

Pendidikan
* New Trier West High (setingkat SMA) di Chicago, AS, 1975
* Jurusan Linguistik & Pelajaran Bahasa Inggris, IKIP Malang (S-1)
* Jurusan Interaksi Bisnis, Sophia University, Tokyo, Jepang
* Indiana University, Amerika Serikat, 1983 (Operations System, MBA)

Pengalaman Profesional

* Citibank Indonesia (1983 - 1986) as Head of Sales
* BSB Bank (1986 - 1989) as Manager Business Development
* Aspac Bank (1990 - 1994) as Vice President Marketing & Organization Development
* Exnal Corp Jakarta (1994 - present) as CEO, Senior Consultant

Spesialisasi

Business Effectiveness Consultant

Buku:

* Becoming a Star (2006)
* One Million Second Chances (2006)

Sumber : http://marioteguh.blogspot.com/

Senin, 16 November 2009



Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) Sukses Bisnis dengan Akhlak

Aa Gym”Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur, dengan bermodalkan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, professional. Kita harus cakap sehingga siapapun yang memerlukan kita merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketika, inovatif, artinya kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.”

Sosok kyai muda ini sering kali muncul di acara televisi secara langsung yang selalu dihadiri oleh ribuan massa menjadi ciri khas dan fenomena tersendiri. Beliau adalah K.H. Abdullah Gymnastiar atau biasa dipanggil Aa Gym, pimpinan pesantren Daarut Tauhid Bandung. Aa Gym memulai pendidikan formal awal di SD Damar sebuah SD swasta yang kini sudah dibubarkan. Sekolah ini cukup jauh dari rumahnya, sekitar tiga kilometer. Masa itu, pilihan satu-satunya ke sekolah adalah berjalan kaki. Menjelang naik ke kelas 3 SD, pindah ke KPAD Gegerkalong.

Aa Gym pun pindah sekolah ke SD Sukarasa 3. Bakat saya mulai berkembang dan nilai prestasi sekolah pun cukup bagus. Terbukti ketika tamat, beliau terpilih menjadi ranking terbaik II di sekolah dengan selisih satu nilai saja dibandingkan ranking I. Di bidang seni, bakat beliau juga berkembang, seperti menggambar dan menyanyi. Sejak itu pula Aa Gym sering ditunjuk menjadi ketua kelas dan aktif dalam gerakan Pramuka.

Jiwa dagang Aa Gym sudah terbentuk sejak TK, terbawa-bawa hingga di Sekolah Dasar. Misalnya, beliau pernah menjual petasan yang memang pada waktu itu belum dilarang seperti sekarang. Alhasil, beliau pernah mendapat teguran dan pengurus DKM masjid. Namun, pada waktu itu beliau belum begitu mengerti ilmu agama dengan baik. Setelah lulus SMA dan memasuki kuliah Aa Gym tidak lulus tes Sipenmaru. Aa Gym mencoba daftar ke Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) Universitas Padjadjaran, yaitu sebuah program D3 di Fakultas Ekonomi. Alhamdulillah beliau diterima. Namun, kuliah di sini hanya bertahan selama tahun. Beliau lebih sibuk berbisnis daripada mengikuti kuliah. Teman-teman kuliah pun lebih mengenal beliau sebagai “tukang dagang”. Selepas PAAP, beliau masuk ke Akademi Tekhnik Jenderal Abmad Yani (ATA, sekarang Unjani). Kampusnya waktu itu sangat sederhana karena menumpang di SD Widyawan atau kadang di PUSDIKJAS. Maklum, karena pemiliknya adalah Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat. Selama kuliah di ATA, beliau mengontrak sebuah kamar di pinggir sawah karena benar-benar ingin melatih hidup mandiri. Soal prestasi, banyak yang telah diraih. Beliau mengikuti lomba menggambar, mencipta lagu, baca puisi, sampai lomba pidato.

Allhamdulillah, beliau selalu meraih juara, walaupun yang mengadakannya adalah senat mahasiswa dan kebetulan beliau sendirilah ketuanya. Selain menjadi ketua senat, beliau juga menjadi komandan resimen mahasiswa (Mlenwa) di ATA, maklumlah saingan di kala itu sedikit. Kegiatan berbisnis masa kuliah juga semakin menggebu. Beliau pernah membuat usaha keset dan perca kain. Beliau juga jadi penjual baterai dan film kamera kalau ada acara wisuda. Aa Gym juga sempat menjadi supir angkot jurusan Cibeber-Cimahi sekedar menambah pemasukan. Inti dari semua ini, memang Aa Gym sangat senang untuk membiayai kebutuhan sendiri tanpa menjadi beban siapa pun. Selain itu, beliau juga melatih diri untuk tidak dibelenggu oleh gengsi dan atribut pengekang lainnya. Aa Gym telah menyelesaikan program sarjana muda di ATA walaupun belum mengikuti ujian negara. Berarti, beliau memang tak berhak menyandang gelar apa pun. Bahkan, sampai saat ini ijazahnya pun belum beliau ambil dari kampus. Memang sesudah itu ada upaya untuk melanjutkan kuliah sampai S1, terutama karena dorongan teman-teman dan beberapa dosen yang baik hati.

Beberapa kegiatan perkuliahan pun diikuti. Akan tetapi, setelah menelusuri hati, ternyata hanya sekedar untuk mencari status belaka, dan hal itu tak cukup kuat untuk memotivasi menyelesaikan kuliah. Mungkin hikmahnya untuk memotivasi orang yang belum dan tak punya gelar agar tetap optimis untuk maju dan sukses.

Untuk menyempurnakan ibadah dan melaksanakan sunnah, Aa Gym pun menikah. Tepat dua belas Rabiul Awal tahun 1987 adalah salah satu titik sejarah bagi kehidupan beliau dengan diucapkannya ijab kabul. Gadis yang menjadi pilihan beliau adalah Ninih Muthmainnah. Pernikahan yang dilaksanakan di Pesantren Kalangsari, Cijulang,ini dihadiri oleh banyak ulama karena memang berada di lingkungan pesantren. Beliau menikah dengan resepsi ala kadarnya. Bahkan, untuk menghemat jamuan bagi tamu, digunakan niru (nampan) sehingga satu niru bisa menjamu 8 orang sesudah menikah, kami tinggal di rumah orang tua di Kompleks Perumahan Angkatan Darat (KPAD) Gegerkalong, Bandung. Aa Gym bertekad untuk memberi nafkah kepada keluarga dengan uang yang jelas kehalalannya. Jelas tak mungkin rumah tangga akan berkah dan bahagia jika ada makanan atau harta haram yang dimiliki. Untuk itu, beliau mulai merintis usaha kecil-kecilan. Usaha-usaha yang beliau rintis antara lain :

1. Buku.
Setiap pagi beliau berjualan buku di Masjid al-Furqon, IMP Bandung. Sambil belajar tafsir dan ilmu hadits di sana, beliau memikul kardus berisi buku-buku agama untuk dijual. Jadi, sambil menuntut ilmu juga mencari rezeki. Alhamdulillah, usaha kecil inilah yang menjadi cikal bakal toko buku dan sekarang berkembang menjadi supermarket yang saat ini sudah dikelola dan diserahkan kepada Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Daarut Tauhid.

2. Handicraft.
Sambil mengajar di madrasah KPAD, beliau membuat hasil kerajinan bersama anak-anak pada sore harinya. Usaha ini terus berkembang hingga bisa membeli mesin gergaji. Sejak itu kami banyak menerima order plang nama serta order sablonan. Dari usaha sederhana inilah kemudian berkembang menjadi usaha percetakan dan penerbitan buku. Subhanallah, benar-benar semuanya dimulai dari hal yang kecil.

3. Konveksi.
Mengingat istri beliau punya keterampilan menjahit, maka untuk menambah penghasilan keluarga, beliau menabung agar bisa membeli mesin jahit bekas. Alhamdulillah, order jahitan berkembang dan bisa mengajak beberapa muslimah untuk ikut bergabung. Kadang seminggu sekali kami berbelanja untuk membeli kain yang dijual kiloan.. Dari kegiatan dan perjuangan inilah cikal bakal lahirnya usaha konveksi.

4. Mie Baso.
Menjual mie baso, inilah pekerjaan yang paling mengesankan. Beliau mengelola usaha warung baso kecil-kedilan di Perumnas Sarijadi, bekerja sama dengan pamannya selaku pemilik rumah. Setiap pukul empat subuh beliau sudah pergi ke Pasar Sederhana untuk mencari tulang karena kuah yang enak harus dicampur dengan sumsum tulang. Aktivitas berikutnya dilanjutkan dengan menggiling daging untuk bahan baso, dan pukul sembilan pagi beliau baru bisa melayani pembeli. Karena beliau tak mau ketinggalan shalat berjamaah, setiap kali adzan, warung baso beliau tinggalkan. Beliau pergi shalat berjamaah di sebuah masjid yang letaknya agak jauh dari warung, sementara pembeli beliau tinggalkan dan dipersilahkan memasukkan uang bayarannya ke tempatnya. Memang tampaknya seperti mengajak pada kejujuran, tapi hasilnya pembeli banyak yang bingung justru yang sering datang adalah yang mau berkonsultasi. Akibatnya, tak jarang saya baru bisa pulang ke rumah sekitar jam sembilan malam. Lelah sekali rasanya sementara hasilnya pun tak seberapa. Rupanya masyarakat tak terbiasa dengan cara baru ini. Belum lagi badan yang selalu bau baso karena seharian bergulat dengan baso. Yangmenyedihkan, ternyata istri agak mual dan kurang suka mencium bau baso. Akhirnya, tutuplah warung baso ini dengan segudang pengalamannya.

Menurut Aa Gym seorang wirausahawan sejati sangat dipengaruhi oleh masa kecilnya. Kalau masa kecilnya selalu dimanja, selalu dimudahkan urusan, selalu ditolong, maka bersiap-siaplah menuai anak yang tidak berdaya. Oleh karena itu, bagi yang masih muda jangan bercita-cita melamar pekerjaan, tapi berpikirlah untuk menjadi wirausahawan. Dan bagi orang tua, tanamkan kepada anak-anak kita jiwa wirausaha sejak dini. Didik anak-anak agar mandiri sejak kecil. Latih anak-anak kita untuk selalu bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan.

Orang tua yang memanjakan anak-anak mereka dengan memberikan segala keinginannya maka akibatnya akan kembali juga kepada orang tua. Beliau pun sempat berjualan semenjak di bangku TK dengan menjual jambu tetangga. Begitu juga ketika di bangku SD dan SMP. Dengan demikian, ketika selesai kuliah, sudah hafal bagaimana cara “bangkrut efektif”, bagaimana “tertipu optimal”, dan bagaimana usaha bisa remuk. Selesai kuliah, ijazah tidak diambil sehingga sampai sekarang saya tidak tahu ijazah saya seperti apa. Namun, dengan izin Allah tidak kurang rezeki sampai sekarang.

Mencoba mengurus pesantren dengan jiwa wirausaha jadilah pesantren Daarut Tauhid seperti sekarang ini. Hal ini benar-benar membuat sebuah keyakinan bahwa jikalau jiwa kewirausahaan tertanam sejak awal pada diri kita, kita tidak akan pernah takut dengan apa pun. Karena itu, kalau saja bangsa ini dikelola oleh orang-orang yang berjiwa wirausaha, tidak ada satu pun yang perlu kita takuti dan krisis ini. Hal yang paling tak enak didengar beliau adalah kalau ada yang bertanya, “Berapa sih tarifnva kalau manggil Aa Gym ceramah?” Duh, rasanya sedih sekali dengan pertanyaan seperti itu. Alhamdulillah, bagi beliau berdakwah adalah panggilan kewajiban atas amanah ilmu yang ada.

Bisa menyampaikan ilmu saja sudah merupakan rezeki yang luar biasa. Kalaupun ada yang berterima kasih, itu karunia Allah yang tak diharapkan, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi banyak pihak. Itulah sebabnya beliau berusaha sekuat tenaga agar memiliki penghasilan sendiri. Apalagi sesudah regenerasi di Yayasan Daarut Tauhid sehingga beliau lebih leluasa dan sungguh-sungguh untuk membangun MQ Corporation, usaha pribadi yang beliau harapkan menjadi sumber rezeki yang halal serta mencukupi untuk keluarga dan biaya dakwah, sehingga dapat menghindari fitnah dan tak menjadi beban bagi umat. Selain itu juga bisa membuktikan bahwa bisnis berbasis moral sangat memungkinkan untuk maju, bermutu, dan bermanfaat banyak. Hal ini juga menjadi laboratorium saya untuk berlatih mengelola bisnis yang profesional sebagai bahan untuk berdakwah dan tentunya juga membuat lapangan kerja yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya para tetangga, kaum dhuafa, dan orang-orang cacat.

Bagi beliau usaha yang ditekuni adalah sarana bagi teman-teman yang memiliki rezeki berlebih dan ingin usaha yang halal dan maslahat, untuk bergabung dalam sistem bagi hasil. Oleh karena itu, dan setiap keuntungan, selain disisihkan untuk zakatnya juga dikeluarkan biaya pendidikan bagi saudara kita yang dhuafa agar bisa maju bersama-sama. Alhamdulillah dengan didukung oleh tim yang berakhlak baik, konflik menjadi minimal dan kebocoran pun nyaris nihil. Bahkan, sesudah kemampuan pengelolanya dikembangkan, kinerja perusahaan kian baik dan professional. Dulu beliau berpikir pas-pasan, yaitu pas butuh ada. Tapi kini beliau berpikir sebaliknya. Beliau ingin menjadi orang kaya yang melimpah rezekinya serta halal dan berkah. Mudah-mudahan menjadi contoh bagi orang yang mau kaya dengan tetap taat kepada Allah. Dan juga supaya orang tak memandang sebelah mata karena menganggap kita butuh terhadap kekayaan mereka. Di samping itu juga diharapkan bisa sedikitnya memberi contoh bagaimana memanfaatkan kekayaan di jalan Allah. Semoga terpelihara dari fitnah dunia karena memang luas dunia ini amat menggoda dan melalaikan.

Kebanyakan orang selalu meributkan modal berupa finansial, padahal menurut beliau modal itu adalah: Pertama, keyakinan kepada janji dan jaminan Allah. Kedua, kegigihan meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Ketiga, menjadi orang yang terpercaya (kredibel). Kredibel berarti sikap yang selalu jujur dan terpercaya, selalu berusaha melakukan yang terbaik dan memuaskan, serta selalu berusaha mengem-bangkan ilmu, pengalaman, wawasan, sehingga bisa tampil kreatif, inovatif dan solutif. Percayalah bahwa sebelum kita lahir, rezeki sudah lengkap disiapkan oleh Allah Yang Mahakaya. Kita hanya disuruh menjemputnya, bukan mencarinya. Yang harus diperoleh justru keberkahan dari jatah kita. Dan semua itu akan datang kalau kita bekerja di jalan yang diridhoi oleh Allah Swt. Adapun keuntungan bukan hanya berupa uang, harta, kedudukan, atau aksesoris duniawi lainnya. Bagi beliau, keuntungan itu adalah ketika bisnis yang dilakukan ada di jalan Allah, bisnis kita jadi amal shaleh yang disukai Allah, dan menjadi jalan mendekat kepada-Nya. Nama baik kita terjaga, bahkan menjadi personal guarantie. Dengan bisnis kita bertambah ilmu, pengalaman, dan wawasan, dengan bisnis bertambahnya saudara dan tersambungnya silaturahmi, dan dengan bisnis kita semakin banyak orang yang merasa beruntung. Jadi, walaupun keuntungan finansial tak seberapa didapat atau bahkan tak mendapatkannya, apabila keuntungan seperti di atas sudah didapatkan, beliau tetap merasa sangat beruntung. Beliau yakin pada saatnya Allah akan memberikan keuntungan dunia yang sesuai dengan waktu dan jumlahnya dengan kadar kebutuhan dan kekuatan iman beliau.

Berbisnis bagi Aa Gym bukan sekedar urusan duniawi. Jika bisnis dijalankan dengan cara yang salah hanya akan melahirkan kerakusan dan ketamakkan manusia. Sebaliknya bisnis yang dijalankan dengan niat dan cara yang benar adalah ibadah yang besar sekali pahalanya, karena dengan mengokohkan harga diri bangsa. Seperti disampaikan beliau dalam sebuah kesempatan, bahwa perekonomian yang kuat akan berimbas pada tingkat kesehatan yang baik, sehingga akan meningkatkan kemampuan untuk berkarya dengan mengakses ilmu lebih banyak, hingga melahirkan sebuah bangsa yang cerdas.

Visi Aa Gym dalam membantu Pesantren Daarut Tauhid sekaligus dengan beragam kegiatan bisnisnya, tidak lepas dari konsep dasar pendidikan di pesantren ini menyatukan antara dimensi dzikir, fikir dan ikhtiar. Dimensi dzikir ini sangat menekankan pada keikhlasan dan penyerahan diri kepada Tuhan. Hal ini merupakan sisi penyeimbang hidup, dimana kita dituntut untuk senantiasa menyempatkan waktu, untuk berkontemplasi dan menjadikan setiap detik kehidupan kita bergantung kepada Tuhan.

Dimensi fikir menegaskan pentingnya rasionalitas dalam setiap tindakan kesehatian kita, sehingga setiap langkah merupakan bagian dari perencanaan yang matang. Sementara dimensi ikhtiar menunjukkan pentingnya etos kerja, melalui hidup penuh kesungguhnya dan kerja keras tanpa kenal putus asa. Ketika dimensi tersebut jika dilakukan secara sinergis akan melahirkan pribadi yang unggul dan tangguh dengan tetap dilandasi oleh nilai kearifan.

Kunci kesuksesan Aa Gym dalam menjalankan roda bisnis di pesantrennya, hingga telah berkembang menjadi 24 bidang usaha dalam 12 tahun, terletak pada pembangunan kredibilitas para pengelolanya yang meliputi tiga aspek utama yaitu, nilai kejujuran, kecakapan (profesionalisme), dan inovatif. Nilai kejujuran yang diajarkan meliputi ketepatan dalam menepati janji, manajemen waktu, memiliki fakta dan data yang jelas, terbuka, kemampuan mengevaluasi, rasa tanggung jawab dan pantang putus asa.Kecakapan dalam berbisnis ini selain diperlukan pendidikan yang penting juga adalah pelatihan nyata. Seperti ditulis oleh Syafi’i Antonio dalam artikelnya yang menceritakan tentang riwayat Rasulullah yang telah mendapat pendidikan entrepreneurship sejak usia 12 tahun, ketika bersama pamannya Abu Thalib melakukan perjalanan bisnis. Pada usia 17 tahun Beliau telah diberi tanggung jawab untuk mengurus seluruh bisnis pamannya, dan mulai merasakan persaingan dengan para pedagang yang lebih professional. Menginjak usia 25 tahun Beliau mendapatkan dukungan finansial dari konglomerat setempat Siti Khadijah yang kemudian menjadi istri Beliau.

Nilai yang ketika yang dikembangkan Daarut Tauhid yang juga dikenal dengan bengkel akhlak ini adalah inovatif. Beberapa aspek pendidikannya antara lain melatih jiwa progressive, dengan menjadikan perubahan ke arah yang lebih baik sebagai kewajiban massal, mengadakan studi banding, melakukan pelatihan-pelatihan dan senantiasa memberikan rangsangan untuk melahirkan sikap kreatif dan inovatif.

Ketiga nilai tersebut telah dilakukan secara integral di Daarut Tauhid. Bisnis bagi Aa Gym akan terasa hambar jika nilai-nilai moral dikesampingkan, hanya akan menjadi materi sebagai dewa yang dikejar dan diagung-agungkan, dan akhirnya akan melahirkan jiwa-jiwa Brutus di setiap pelaku bisnis.Aspek-aspek modal dalam bisnis sebetulnya telah diajarkan oleh Rasul jauh 15 abad yang lalu, lewat sifat-sifat kerasulan yang dimiliki Beliau yaitu sidiq (benar), amanah (terpercaya), fathonah (cerdas) dan tabligh (komunikasi). Nilai-nilai moral ini bersifat general truth, melintasi batas waktu, agama dan budaya. Jika disinergikan dengan strategi bisnis yang tepat akan mampu membangun kepercayaan konsumen yang kuat. Kepercayaan konsumen ini merupakan aset yang tidak ternilai.

Kepemimpinan yang berkembang umum di kalangan pesantren pada umumnya masih tradisional, kyai sentries, komando tunggal, dan iklim demokrasi kurang berkembang sehingga seringkali timbul blind faith di kalangan santri. Fungsi manajemen yang dijalankan pun kurang mendapat sentuhan bahkan cenderung diabaikan. Pola kepemimpinan Darut Tauhid tidak lagi menempatkan figur sebagai sentral. Aa Gym sebagai pemimpin pesantren hadir hanya karena nilai khusus yang dimilikinya. Meminjam istilah Max Webber, pola kepemimpinan yang lahir seperti ini karena otoritas karismatik. Kepemimpinan di Daarut Tauhid telah menerapkan system pendelegasian kerja, sebagai pengalihan wewenang formal manajer kepada bawahannya. Pemimpin diajarkan untuk memiliki sikap rendah hati dan mau melayani, seperti pernah dikemukakan oleh A.M. Mangunhardjana SJ. Bahwa pada intinya pemimpin adalah tugas pengabdian mereka menjalankan the golden rule of leadership yaitu knows the way, shows the way and goes the way. Dari sisi manajemen Daarut Tauhiid telah menerapkan system lebih dari hanya sekedar menerapkan sistem manajemen modern. Dimana sistem manajemen modern. Dimana sistem manajemen yang berkembang saat ini tidak menjadikan manusia hanya objek pelaku agar materi dan kapital semakin produktif, tapi juga telah melahirkan aspek-aspek spiritual dan emosi dalam pemikiran manusia. Covey sendiri dalam hal ini telah melakukan terobosan baru dengan mengemukakan gagasannya tentang manajemen berbasis kepentingan yang kental dengan nuansa religius.Daarut Tauhid sendiri menerapkan inti manajemen dan kepemimpinan sekaligus dalam konsep Manajemen Qolbu (MQ) yang ditawarkannya. Dalam MQ hati adalah fakultas utama dalam diri manusia yang sangat menentukan kualitas manusia itu sendiri, jika dimanajemeni dan dipimpin dengan benar akan melahirkan manusia paripurna dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam kesehariannya Daarut Tauhid tidak pernah merengek-rengek meminta sumbangan, apalagi dengan menjaring dana di pinggir jalan. Dilihat dari fasilitas dan asset Daarut Tauhid termasuk pesantren yang maju dalam waktu singkat. DT pada awalnya hanya dikenal sebagai bengkel akhlak tetapi sekarang lebih menonjol di bidang ekonomi. “Memang kami memiliki strategi tersendiri, oleh karena itu visi dan misi Daarut Tauhid sendiri harus dikenali dahulu. Secara garis besar kami ingin membentuk SDM yang memiliki keunggulan dalam zikir, fikir dan ikhtiar, suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” demikian penuturan Abdullah Gymnastiar.

Dzikir, fikir dan ikhtiar ini merupakan konsep dasar dari MQ yang diajarkan sehari-hari melalui hal-hal kecil. Untuk menerapkan Daarut Tauhid sendiri memiliki lima aturan dasar pelatihan kepada para santrinya yang juga merupakan bagian dari roda perekonomian Daarut Tauhid. Pertama, seorang santri dilatih untuk berfikir keras, mengenal diri dan potensinya sehingga ia mampu mengenal kekurangan diri lalu memperbaikinya dan menempat dirinya secara optimal. Kedua, mereka dilatih untuk mengenal situasi lingkungannya sehingga bisa mendapatkan manfaat dari lingkungannya secara optimal sekaligus memberikan manfaat balik kepada lingkungan secara professional. Ketika, mereka dilatih untuuk membuat suatu perencanaan yang matang, sehingga segala sesuatunya berjalan dalam jalur yang telah disepakati. Keempat, mereka dilatih untuk mengevaluasi setiap hasil karya mereka, bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan dan senantiasa meningkatkan kinerja mereka. Kelima, ciri SDM yang akan dibentuk adalah yang unggul dalam berikhtiar. Kombinasi ibadah yang bagus, strategi hidup yang tepat dan ikhtiar dengan bersungguh-sungguh akan menjadikan hidup sebagai mesin penghasil karya.

Pola MQ sampai sejauh ini telah menghasilkan SDM yang unggul, hal ini terbukti dari berkembangnya perekonomian di lingkungan Daarut Tauhid dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadapnya, diantaranya dengan kepercayaan untuk mengadakan pelatihan dan pendidikan manajemen untuk para eksekutif di PT Telkom, BNI, IPTN dan PT Kereta Api Indonesia. Mereka tertarik dengan konsep manajemen Daarut Tauhid karena diyakini mampu meningkatkan etos kerja dan menurunkan tingkat penyelewengan kerja, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Sumber : Dennie – Indohotel.net – http://www.yukbisniscom/